
Konsep rumah pintar (connected home) di Asia Tenggara semakin berkembang, namun bukan lagi didorong semata oleh canggihnya teknologi. Sebaliknya, perkembangan ini berakar pada gaya hidup dan rutinitas harian penghuni rumah itu sendiri. Pendekatan yang lebih manusiawi dan intuitif ini membuat sistem otomasi hunian menjadi lebih relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Karakteristik hunian di kawasan Asia Pasifik memiliki ciri khas tersendiri: ruang terbatas, hunian padat, dan penghuni yang beragam dalam satu bangunan. Keluarga besar tinggal bersama dalam satu atap—data Pew Research Center menunjukkan lebih dari 40% masyarakat Asia Pasifik hidup dengan keluarga besar. Ditambah dengan tren kerja fleksibel, 72% pekerja di kawasan ini menginginkan skema hybrid, ruangan-ruangan rumah dituntut serba guna.
Satu ruangan kini harus mampu beralih fungsi dengan cepat: area kerja di pagi hari, tempat belajar anak siang hari, ruang berkumpul keluarga sore hari, dan kamar tidur di malam hari. Keterbatasan lahan membuat pemilik rumah mencari solusi tanpa renovasi fisik. Di sinilah pencahayaan pintar (smart lighting) hadir sebagai jawaban paling praktis dan alami untuk menyesuaikan suasana ruangan.
Menurut CEO Signify As Tempelman, “Kami meyakini bahwa connected home pada dasarnya adalah cerita tentang manusia serta bagaimana ekspektasi mereka terhadap rumah terus berkembang. Cahaya hadir di hampir setiap sudut dan momen harian. Oleh karena itu, mengatur pencahayaan menjadi cara paling natural untuk menyesuaikan suasana rumah—mulai dari menjaga fokus kerja, menikmati kebersamaan keluarga, hingga memfasilitasi istirahat malam.” Pemahaman mendalam tentang perilaku manusia adalah kunci inovasi smart home yang benar-benar dibutuhkan konsumen.
Di Indonesia, pemilik rumah semakin sadar pentingnya kenyamanan dan fleksibilitas ruang. Pencahayaan terintegrasi tidak lagi dilihat sekadar hiasan, melainkan elemen penting untuk kenyamanan di kamar anak, ruang kerja, dan ruang keluarga. Kemudahan operasional digital mendorong minat ini: pengguna dapat mengatur warna, intensitas cahaya, hingga jadwal otomatis lampu melalui aplikasi smartphone, perintah suara, atau remote control.
Pasar smart lighting global menunjukkan pertumbuhan mengesankan—dari USD 27,98 miliar pada 2025 diproyeksikan menjadi USD 173,21 miliar pada 2034. Pertumbuhan ini sejalan dengan makin luasnya adopsi smart home di Indonesia. Penyedia teknologi merespons dengan menghadirkan beragam pilihan produk yang mudah diakses dan tidak rumit bagi pengguna awam.
President Director Signify Commercial Indonesia Dedy Bagus Pramono menjelaskan bahwa “Philips Smart Lighting dirancang agar intuitif dan mampu memahami kebiasaan pengguna. Dengan ragam pilihan produk seperti smart bulb, downlight, light strip, light bar, hingga smart spotlight, konsumen Indonesia memiliki fleksibilitas penuh untuk menciptakan hunian yang lebih nyaman dan adaptif.” Produk-produk ini dirancang untuk mendukung kelancaran aktivitas harian di dalam rumah.
Evolusi rumah pintar di Asia menunjukkan harmoni yang semakin baik dengan kebutuhan ruang hidup multifungsi. Bagi pengembang properti dan pemilik hunian, optimalisasi pencahayaan pintar kini menjadi strategi efisien untuk meningkatkan nilai fungsi dan kualitas hidup penghuni sekaligus menambah daya tarik properti di pasar yang semakin kompetitif.
Sumber: propertiterkini.com
Baca Juga

BP Tapera Bidik PNS dan UMKM untuk Program Hunian Subsidi

Bisnis Gudang dan Logistik Dorong Laba RISE Membengkak 183 Persen di 9 Bulan Pertama 2026

BTN Perluas Jangkauan KPR hingga Rp552 Triliun dengan Strategi Digital dan Inklusi Finansial

