Krisis BBM Bali Jadi Ujian Ketahanan Bisnis Properti, Strategi Mitigasi Jadi Kunci

Krisis BBM Bali Jadi Ujian Ketahanan Bisnis Properti, Strategi Mitigasi Jadi Kunci

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Bali beberapa waktu lalu menciptakan gangguan mobilitas dan operasional di kawasan pariwisata. Situasi ini menyebabkan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan kemacetan di berbagai lokasi, sehingga mempengaruhi ritme bisnis sehari-hari.

Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City, melihat krisis ini sebagai momen uji ketahanan industri properti di wilayah tersebut. Dia menekankan bahwa “Ketidakpastian pasokan BBM pada dasarnya berdampak langsung pada hilangnya konektivitas. Bagi kawasan destinasi seperti Bali, kemacetan akibat antrean pengisian bahan bakar membuat orang enggan bepergian. Hal ini memicu dua hal: penurunan aktivitas transaksi bisnis serta gangguan operasional karena para tenaga kerja kesulitan mencapai tempat kerja mereka.”

Meski pembatalan reservasi akomodasi belum terjadi secara masif, gangguan logistik telah memperpanjang waktu perjalanan wisatawan. Antrean kendaraan yang tersebar di media sosial berpotensi menciptakan persepsi negatif bagi wisatawan premium yang mengutamakan mobilitas bebas.

Menurut Kroll, investor properti tidak hanya memperhatikan ada tidaknya krisis, tetapi lebih pada keberadaan dan keandalan strategi mitigasi dari pengembang dan pemerintah. Dia mengatakan bahwa “Investor senantiasa menilai keberadaan strategi mitigasi. Jika gangguan pasokan berlangsung berlarut-larut, persepsi publik global terhadap Bali dapat terpengaruh.”

Sebagai bentuk mitigasi jangka panjang, Nuanu Creative City menerapkan konsep kawasan bebas kendaraan berbahan bakar fosil di area seluas 44 hektar. Kendaraan konvensional pengunjung ditempatkan di area parkir khusus di luar kawasan utama, sementara mobilitas internal menggunakan buggy dan shuttle listrik yang didukung stasiun pengisian daya terpadu.

Kawasan ini juga menerapkan konsep 15-minute city, di mana semua kebutuhan harian dapat diakses dalam 15 menit melalui jalur pejalan kaki dan transportasi ramah lingkungan. Fasilitas seperti pusat kuliner tower market dengan 30 restoran, Nuanu Park, dan ruang terbuka hijau terhubung langsung tanpa bergantung pada jalan arteri utama.

Pendekatan ekosistem mandiri dan bebas emisi ini diharapkan menjadi standar baru bagi kawasan hunian berkelanjutan di Bali yang mampu bertahan menghadapi guncangan logistik regional.

Sumber: propertiterkini.com

Baca Juga

Scroll to Top