:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4166753/original/096704000_1663802133-Harga_Minyak_Dunia_2.jpg)
Kabar dari meja perundingan antara Iran dan Amerika Serikat ternyata langsung berdampak ke harga minyak dunia. Sepekan terakhir, harga minyak mentah jenis WTI (West Texas Intermediate) rontok hingga 7,9%, sementara Brent — jenis minyak acuan internasional — relatif bertahan.
Secara harian, WTI melemah 2,3% ke level US$ 92,41 per barel pada Minggu (27/9/2026). Brent pun ikut terkoreksi 2,1% menjadi US$ 104,32 per barel. Penurunan ini terjadi setelah kedua negara menggelar pembicaraan di sela Sidang Umum PBB di New York.
Pemicu utama turunnya harga minyak adalah sinyal positif dari Iran soal Selat Hormuz — jalur laut strategis yang selama ini menjadi pintu keluar sebagian besar ekspor minyak kawasan Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan, “Teheran menawarkan pembukaan selat tersebut dalam tujuh hari jika AS memenuhi sejumlah persyaratan dalam kesepakatan perdamaian sementara.”
Meski begitu, situasinya belum sepenuhnya aman. Iran masih menunggu respons resmi dari pihak AS dan menegaskan tidak akan terburu-buru mengambil keputusan. Artinya, potensi ketegangan kembali memanas masih tetap ada.
Perkembangan diplomasi ini menjadi pengingat betapa eratnya hubungan antara situasi geopolitik dan harga energi global — sesuatu yang ujungnya turut memengaruhi banyak sektor, termasuk biaya konstruksi dan properti di dalam negeri.
Sumber: Liputan6




