
Industri kaca lembaran dalam negeri memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan sektor properti, konstruksi, dan otomotif nasional. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menjelaskan bahwa meningkatnya pembangunan infrastruktur dan perumahan membuka peluang besar bagi permintaan kaca lembaran di pasar domestik.
Pemerintah telah merancang sejumlah langkah untuk membuat industri kaca lembaran lebih efisien dan kompetitif. Dukungan tersebut mencakup subsidi harga gas bumi sebesar USD 7 per MMBTU, penerapan standar mutu wajib, serta insentif impor untuk barang modal yang mendukung ekspansi produksi.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan standar industri hijau dan transformasi digital untuk memastikan sektor ini tetap ramah lingkungan dan modern. “Di tengah persaingan global, industri kaca lembaran nasional perlu memperkuat inovasi melalui pengembangan teknologi produksi dan diversifikasi produk, seperti kaca low-emissivity (Low-E), kaca berlapis, dan kaca berinsulasi untuk mendukung bangunan hemat energi,” ujar Sarmuji.
Saat ini, industri kaca lembaran nasional mengandalkan komponen dalam negeri hingga rata-rata 73,69%, menunjukkan ketahanan industri lokal. Pemerintah juga menyederhanakan proses sertifikasi komponen lokal agar lebih cepat dan transparan, mendorong produsen lokal untuk terus meningkatkan kontribusi mereka.
Data menunjukkan kapasitas produksi terpasang industri kaca lembaran mencapai 2,92 juta ton per tahun pada 2025, meningkat signifikan dari 1,34 juta ton pada 2022. Kehadiran PT Xinyi Glass Indonesia berkontribusi 27,5% dari total kapasitas, membuktikan bahwa investasi baru mampu memperkuat posisi industri ini di tingkat regional dan global.
Sumber: industriproperti.com
Baca Juga

BP Tapera Bidik PNS dan UMKM untuk Program Hunian Subsidi

Bisnis Gudang dan Logistik Dorong Laba RISE Membengkak 183 Persen di 9 Bulan Pertama 2026

BTN Perluas Jangkauan KPR hingga Rp552 Triliun dengan Strategi Digital dan Inklusi Finansial

