
Preferensi investor properti di Bali mengalami perubahan signifikan setelah pandemi. Alih-alih mencari vila komersial individual di pusat keramaian, pembeli kini lebih tertarik pada pengembangan kawasan terpadu yang menawarkan ekosistem lengkap dengan berbagai fasilitas.
Pergeseran ini didorong oleh kesadaran investor—baik dari dalam maupun luar negeri—tentang nilai investasi jangka panjang yang berkelanjutan. Mereka juga mencari kepastian dalam pengelolaan aset dan infrastruktur lingkungan yang terjaga dengan baik di sekitar hunian mereka.
Nuanu Creative City di Tabanan menjadi contoh nyata tren ini. Proyek seluas 44 hektar ini mengintegrasikan berbagai pilar kehidupan mulai dari pendidikan, seni budaya, wellness, hingga ruang terbuka hijau dalam satu kawasan mandiri.
Direktur Nuanu Real Estate, Anastasia Sinberg, menjelaskan bahwa setiap calon penghuni memiliki preferensi gaya hidup yang berbeda-beda. “Menciptakan tempat yang istimewa untuk ditinggali merupakan bagian dari visi Nuanu. Namun, setiap orang memiliki gambaran yang berbeda tentang gaya hidup ideal. Tujuan kami adalah mengembangkan beragam pilihan proyek hunian agar setiap orang yang datang ke Nuanu dapat menemukan cara yang paling sesuai bagi mereka untuk menetap, menginap, dan menikmati Bali,” jelasnya.
Portofolio Nuanu mencakup proyek-proyek dengan konsep unik seperti Ecoverse, OXO The Residences, Biom, Sutala, dan Black Sands Oasis. Strategi pengelompokan kawasan mandiri ini terbukti memberikan nilai tambah bagi aset properti di dalamnya.
Tren investasi Bali saat ini juga menekankan inklusivitas pasar. Pengembang responsif mulai mengakomodasi permintaan akomodasi yang ramah keluarga dan menyediakan fasilitas Muslim-friendly wellness tourism untuk menarik wisatawan dan investor dari berbagai latar belakang.
CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, menggarisbawahi pentingnya integrasi layanan yang menghormati keberagaman. “Saya sangat terkesan dengan besarnya perhatian yang diberikan dalam merancang pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim—sebuah elemen baru yang semakin memperkaya keberagaman Nuanu,” ujarnya.
Kualitas konstruksi dan sistem pengelolaan terpadu menjadi faktor teknis yang menentukan daya saing investasi properti Bali. Tantangan geografis seperti kelembapan tinggi, korosi, dan risiko gempa bumi membuat investor menuntut jaminan garansi yang terukur dari pengembang.
Pendiri dan CEO UNIT., Steven Fedos, menekankan bahwa kesuksesan proyek jangka panjang bergantung pada kontrol kualitas pengembang dari proses desain hingga pengelolaan. “Dengan menangani konstruksi, produksi, hingga pengelolaan sendiri, kami memiliki kendali lebih besar atas kualitas proyek sekaligus tanggung jawab atas hasilnya. Sejak tahap desain, kami sudah mempertimbangkan bagaimana hunian akan dibangun, digunakan, dan dirawat dalam jangka panjang,” tegasnya.
Pola investasi properti Bali yang berkembang menunjukkan bahwa investor modern mencari lebih dari sekadar unit hunian—mereka menginginkan gaya hidup lengkap dengan jaminan nilai aset yang stabil di masa depan.
Sumber: propertiterkini.com
Baca Juga

BP Tapera Bidik PNS dan UMKM untuk Program Hunian Subsidi

Bisnis Gudang dan Logistik Dorong Laba RISE Membengkak 183 Persen di 9 Bulan Pertama 2026

BTN Perluas Jangkauan KPR hingga Rp552 Triliun dengan Strategi Digital dan Inklusi Finansial

