Pasar Rumah Bekas Menunjukkan Wajah Berbeda di Setiap Kota: Makassar Melejit, Jabodetabek Melambat

Pasar Rumah Bekas Menunjukkan Wajah Berbeda di Setiap Kota: Makassar Melejit, Jabodetabek Melambat

Pertumbuhan harga rumah bekas di Indonesia ternyata tidak merata di seluruh wilayah. Data dari Rumah123 bulan Oktober 2026 menunjukkan bahwa sementara harga rumah sekunder nasional hanya tumbuh 0,4% per tahun, beberapa kota justru mengalami lonjakan signifikan yang jauh berbeda dengan wilayah lainnya.

Makassar menjadi bintang utama dengan pertumbuhan harga mencapai 10,2% year-on-year, jauh melampaui kota-kota lain. Pencapaian ini stabil di kisaran 9,5% hingga 10,2% sepanjang kuartal ketiga tahun ini. Posisi kedua ditempati Denpasar dengan kenaikan 3,5%, yang didorong oleh permintaan investor domestik dan mancanegara melalui program Second-Home Visa dan Golden Visa.

Sebaliknya, kawasan Jabodetabek menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih lambat. Bogor tercepat di kawasan ini dengan kenaikan 2,6%, diikuti Bekasi 2,1%, Depok 1,3%, dan Jakarta hanya naik 0,2%. Bahkan Tangerang mengalami penurunan tipis sebesar minus 0,1%.

Marisa Jaya, Head of Research Rumah123, menjelaskan bahwa angka pertumbuhan nasional perlu dilihat lebih detail per kota. “Sepanjang kuartal ketiga, jarak antara pertumbuhan harga rumah seken dan inflasi terus melebar. Artinya, secara riil harga rumah seken cenderung tertahan. Tetapi pergerakan di tiap kota sangat berbeda: Makassar tumbuh dua digit, sementara Semarang dan Tangerang terkoreksi tipis. Karena itu, angka nasional perlu dibaca bersama data per kota,” ujarnya.

Perbedaan drastis antar wilayah ini membuka peluang berbeda bagi pembeli dan investor. Di kota dengan pertumbuhan lambat atau mengalami koreksi, ada ruang untuk negosiasi harga sebelum pasar membaik. Sebaliknya, Makassar dan Denpasar menawarkan prospek keuntungan jangka panjang yang lebih menjanjikan bagi investor properti.

Kondisi ini menunjukkan bahwa strategi membeli atau berinvestasi properti tidak bisa lagi menggunakan pendekatan satu ukuran untuk semua daerah. Setiap kota memiliki dinamika pasar yang unik dan memerlukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.

Sumber: propertiterkini.com

Baca Juga

Scroll to Top