Kenapa Rumah Subsidi Sulit Laku? Ini Hambatan Utamanya Menurut Pengembang

Kenapa Rumah Subsidi Sulit Laku? Ini Hambatan Utamanya Menurut Pengembang

Penyerapan rumah subsidi di Indonesia menghadapi kendala serius yang tidak hanya datang dari sisi pembeli, tetapi juga dari keterbatasan penyediaan unit. Pesona Kahuripan Group (PKG), perusahaan pengembang perumahan, mengungkapkan bahwa tantangan tahun ini berasal dari masalah perizinan, daya beli masyarakat berpenghasilan rendah yang terbatas, dan sulitnya calon pembeli memenuhi syarat kredit rumah.

Direktur Utama PKG, Angga Budi Kusuma, menjelaskan bahwa permasalahan utama bukan semata soal kurangnya pembeli. “Persoalan utama penurunan realisasi rumah subsidi tahun ini tidak semata-mata berasal dari sisi permintaan (demand), tetapi juga dari sisi pasokan (supply), terutama kelancaran pembangunan dan proses perizinan perumahan,” ungkapnya.

Masalah tata ruang dan penetapan status lahan, khususnya Lahan Baku Sawah (LBS) dan Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD), menjadi hambatan nyata dalam proses pembangunan. Ketika status lahan tidak jelas, pemecahan sertifikat rumah untuk dijual kepada pembeli menjadi terhambat, yang berakibat pada penundaan pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung dan proses kredit.

Selain itu, persyaratan kelayakan kredit menciptakan tantangan tersendiri. Beberapa calon pembeli gagal lolos akad kredit karena catatan kredit negatif dalam sistem Otoritas Jasa Keuangan. Angga menekankan bahwa pengembang harus menyesuaikan strategi bisnis dengan kondisi pasar yang ada.

PKG sendiri menargetkan penjualan 6.000 unit rumah subsidi tahun ini, dengan proyeksi pembangunan mencapai 8.000 unit. Hingga 13 Oktober 2026, realisasi penjualan telah mencapai 3.347 unit, dengan harapan menutup tahun dengan 5.200 unit terjual, meski masih di bawah target awal.

Meskipun menghadapi berbagai hambatan, Angga tetap optimistis bahwa realisasi penyaluran rumah subsidi secara nasional pada 2026 dapat mencapai minimal 270.000 unit. Upaya ini perlu didukung oleh kejelasan tata ruang di berbagai daerah dan sinkronisasi data antara pengembang, bank, dan lembaga terkait.

Angga juga mengusulkan gerakan bersama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kepemilikan rumah. Kolaborasi antarPengembang dalam kampanye positif, baik melalui media massa maupun media sosial, dianggap sebagai strategi efektif untuk membangun minat dan kepercayaan pasar terhadap produk rumah subsidi.

Sumber: industriproperti.com

Baca Juga

Scroll to Top