
Bank Tabungan Negara (BTN) menghadirkan strategi pembiayaan baru untuk memperluas jangkauan hunian masyarakat dan mendukung target pemerintah membangun 3 juta rumah. Tiga pilar utama strategi itu mencakup skema pembiayaan pelengkap hunian, pemasaran ulang 30.000 rumah bekas, serta kemitraan pembiayaan berbasis komunitas.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait merespons positif langkah BTN ini saat bertemu dengan Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu beberapa waktu lalu di Jakarta. “BTN memiliki terobosan-terobosan baru yang baik dan bagus dalam mendukung percepatan progres rumah subsidi FLPP,” ujarnya.
Salah satu inovasi unggulan adalah Home Power, fasilitas tambahan yang memungkinkan pembeli rumah mendapatkan kredit hingga 30% dari plafon awal untuk melengkapi kebutuhan interior dan perlengkapan rumah setelah pembangunan selesai. Program ini sedang diuji coba di Bogor dengan target 40 unit rumah.
Menurut Nixon, skema ini dirancang agar konsumen tidak terbebani mencari pinjaman tambahan dengan bunga lebih tinggi. “Kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya bisa membeli rumah, tetapi juga memiliki kemampuan untuk melengkapi kebutuhan di dalamnya,” kata dia.
Program kedua, KPR Recycle, memanfaatkan stok hunian eksisting yang layak jual kembali. BTN menyiapkan 30.000 unit rumah bekas untuk program ini dengan perbaikan menyeluruh mulai dari pengecatan, atap, hingga dinding sebelum ditawarkan ke pasar.
BTN juga menjalin kemitraan dengan organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Bersama Muhammadiyah, bank ini meluncurkan RumahMU, program hunian khusus untuk guru dan pegawai institusi Muhammadiyah, yang akan diperkenalkan pada November 2026 di Palu.
Di bidang pengembangan hunian perkotaan, BTN sedang menjajaki proyek terintegrasi dengan transportasi publik di kawasan Manggarai, Jakarta. Sebanyak 1.500 calon pembeli telah menunjukkan minat, meski proyek masih menunggu penyelesaian perizinan dari PT Kereta Api Indonesia.
Secara kumulatif, BTN telah menyalurkan kredit pembiayaan hunian senilai Rp7,4 triliun, terdiri dari Rp5,4 triliun untuk sisi penyediaan dan Rp2 triliun untuk sisi permintaan. Hingga Oktober 2026, realisasi subsidi FLPP baru mencapai 184.342 unit atau sekitar 53% dari target 350.000 unit tahunan, menunjukkan upaya kolaborasi antara perbankan, pemerintah, dan developer masih perlu dipercepat untuk mencapai tujuan Program 3 Juta Rumah.
Sumber: propertiterkini.com
Baca Juga

WIKA Beton Raih Pendapatan Rp2,55 Triliun, Produk Pracetak Jadi Tulang Punggung Bisnis

KCI Jelaskan Alasan Pengoperasian KRL 8 Gerbong di Rute Bekasi-Cikarang

Summarecon Expo 2026 Hadir dengan Konsep Hiburan dan Properti Sekaligus di Bekasi

