Pergudangan dan Perkantoran Mendominasi, Kondominium Masih Lesu di Pasar Properti Jakarta 2026

Pergudangan dan Perkantoran Mendominasi, Kondominium Masih Lesu di Pasar Properti Jakarta 2026

Pasar properti Jakarta pada kuartal ketiga 2026 menunjukkan pola pertumbuhan yang tidak merata antarsektor. Beberapa segmen seperti pergudangan modern dan perkantoran mencatat lonjakan permintaan yang signifikan, sementara kondominium masih menghadapi hambatan dari sisi pembeli yang menunggu momen yang lebih tepat.

JLL Indonesia merilis laporan analisis pasar properti terbaru pada 5 November 2026 yang mencakup pergerakan di berbagai sektor mulai dari perkantoran, ritel, sampai perhotelan. Laporan ini didasarkan pada kondisi makroekonomi Indonesia yang menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 5,26% per tahun pada kuartal kedua 2026.

Sektor pergudangan modern menjadi tulang punggung pertumbuhan properti komersial. Penyerapan ruang gudang di Jabodetabek mencapai 141.500 meter persegi dalam kuartal ketiga, dengan tingkat okupansi mencapai 97%, menandakan kelangkaan ketersediaan ruang. Permintaan berasal dari perusahaan e-commerce, penyedia layanan logistik pihak ketiga, hingga industri farmasi dan kosmetik.

Farazia Basarah, Country Head and Head of Logistics and Industrial JLL Indonesia, menyatakan bahwa “sektor logistik dan industrial sebagai salah satu segmen paling tangguh di pasar properti Indonesia.” Dukungan dari pertumbuhan belanja digital dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan turut memperkuat kebutuhan akan ruang gudang modern.

Di sektor perkantoran, penyerapan ruang kantor di pusat bisnis Jakarta mencapai hampir 25.000 meter persegi pada kuartal ketiga, dengan akumulasi sepanjang 2026 sekitar 65.000 meter persegi. Perusahaan teknologi, terutama yang berfokus pada kecerdasan buatan dan pusat data, menjadi penggerak utama dalam menyewa ruang kantor. Tingkat okupansi mencapai 72% dengan kenaikan sewa kantor kelas A sebesar 1,1% per kuartal.

Pasar ritel tetap stabil dengan tingkat okupansi sekitar 86%. Penambahan pusat perbelanjaan baru seluas 16.000 meter persegi di Jakarta Timur membawa total stok ritel ke angka 3,2 juta meter persegi. Ekspansi toko makanan-minuman dan toko flagship dari merek Asia baru menjadi pendorong utama aktivitas di sektor ini.

Berbeda dengan sektor komersial, kondominium Jakarta masih mengalami ketidakpastian pembeli. Tidak ada peluncuran proyek baru selama kuartal ketiga 2026, dan transaksi didominasi oleh pembeli pengguna akhir. Program insentif pajak dari pemerintah membantu mendorong penjualan, khususnya untuk unit yang sudah rampung dibangun. Dari 25.000 unit yang dimonitor, sekitar 83% telah terjual dan masih ada 4.300 unit yang belum laku.

Milda Abidin, Senior Director of Strategic Consulting JLL Indonesia, menjelaskan bahwa “reputasi pengembang, lokasi yang telah berkembang, dan inovasi produk” berperan penting dalam menarik pembeli kondominium di kawasan Bodetabek. Proyek-proyek kecil dengan konsep ruang kantor rumahan masih mendapat respons positif dari pembeli.

Sektor perhotelan menunjukkan tren positif dari sisi pendapatan. Kunjungan wisatawan internasional ke Jakarta mencapai 2,1 juta orang dalam sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 6,4% dibanding tahun sebelumnya. Tarif kamar rata-rata di Jakarta naik 8,2%, sementara pendapatan per kamar tersedia tumbuh 9,8% hingga September 2026.

Dari sudut pandang investasi, modal asing langsung pada kuartal ketiga mencapai US$16,4 miliar, meningkat 27% dibanding periode sama tahun lalu. Investor properti masih menunjukkan preferensi pada aset yang sudah menghasilkan pendapatan tetap, terutama di sektor perkantoran, hotel, dan ritel. Herully Suherman, Senior Director of Capital Markets JLL Indonesia, menekankan bahwa “sektor industri dan logistik terus menunjukkan permintaan yang kuat dan stabil dari para investor, didorong oleh meningkatnya konsumsi digital, perkembangan kecerdasan buatan, serta pertumbuhan berkelanjutan sektor e-commerce.”

Tren ini mengindikasikan bahwa pasar properti Jakarta sedang mengalami fase selektif, di mana investor dan pembeli lebih cermat memilih lokasi dan tipe aset. Pergudangan modern dan perkantoran tetap menjadi pilihan utama berkat permintaan yang konsisten dari sektor bisnis yang terus berkembang, sementara kondominium memerlukan strategi pemasaran yang lebih inovatif untuk membangkitkan minat pembeli kembali.

Sumber: propertiterkini.com

Baca Juga

Scroll to Top