Okupansi Hotel Indonesia Terus Membaik, Capai 52 Persen di Agustus 2026

Okupansi Hotel Indonesia Terus Membaik, Capai 52 Persen di Agustus 2026

Industri perhotelan Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang positif. Pada Agustus 2026, tingkat penghunian kamar hotel bintang mencapai 52,52 persen, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam delapan bulan pertama tahun ini, rata-rata okupansi mencapai angka 49,56 persen dengan peningkatan yang tersebar merata di semua kategori bintang hotel.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa melihat angka ini sebagai bukti nyata pertumbuhan sektor. Menurutnya, “Ini menjadi salah satu indikator bahwa industri hospitality kita semakin baik, seiring meningkatnya mobilitas dan aktivitas pariwisata.”

Pengakuan internasional turut memperkuat posisi industri perhotelan Indonesia. Sebanyak 47 hotel dan resor Indonesia berhasil masuk daftar MICHELIN Keys 2026, jauh melampaui pencapaian tahun lalu yang hanya 33 properti. Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai penghuni posisi kedua di Asia Tenggara, hanya kalah dari Thailand.

Prestasi tertinggi diraih oleh NIHI Sumba, Amanjiwo, dan Mandapa yang menerima tiga kunci MICHELIN dalam kategori paling bergengsi. Sementara itu, dalam peringkat The World’s 50 Best Hotels 2026, tiga properti Indonesia berhasil masuk daftar tersebut, dengan Desa Potato Head Bali di posisi ke-21.

Gelombang kunjungan wisatawan mancanegara turut mendorong performa positif ini. Indonesia menyambut 1,60 juta pengunjung asing pada Agustus 2026, tumbuh 6,27 persen year-on-year. Hingga akhir Agustus, akumulasi kunjungan mencapai 10,58 juta orang dengan pertumbuhan tahunan sebesar 5,38 persen.

Namun, ahli industri mengingatkan tidak setiap peningkatan wisatawan otomatis menerjemahkan ke penjualan kamar hotel lebih banyak. Ferry Salanto dari Colliers Indonesia menjelaskan bahwa tingginya konektivitas transportasi dan efisiensi perjalanan membuat tamu—terutama pebisnis—menghabiskan waktu lebih singkat di kota. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan saat menganalisis tren okupansi di masa depan.

Sumber: industriproperti.com

Baca Juga

Scroll to Top