
Pemerintah menempatkan Sulawesi Selatan sebagai hub atau pusat strategis bagi Kawasan Timur Indonesia (KTI) dalam upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional. Penunjukan ini diumumkan saat peluncuran program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua di Makassar pada Jumat.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan peran tersebut. “Semua harus sama-sama berkolaborasi untuk mewujudkan Sulsel sebagai hub KTI guna memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional,” katanya setelah acara peluncuran program di kawasan Pelabuhan Soekarno-Hatta.
Meskipun tantangan iklim seperti El Niño dan La Niña terus mengancam, pemerintah tetap yakin dapat mencapai swasembada beras yang berkelanjutan. Optimisme ini didukung oleh pencapaian terbaru dimana delapan komoditas strategis—termasuk telur, ayam, beras, bawang merah, dan gula konsumsi—telah mencapai tingkat swasembada.
Letak geografis Sulawesi Selatan yang strategis memposisikannya sebagai jalur utama distribusi pangan ke seluruh wilayah timur Indonesia. Peran ini diharapkan dapat menjaga kelancaran pasokan, stabilitas harga, dan keberlanjutan program ketahanan pangan nasional.
Program GPIPS 2026 difokuskan pada tiga pilar utama di kawasan Sulampua: sinergi antar-daerah dalam rantai pasok, penguatan produksi pangan lokal, dan pengendalian fluktuasi harga yang memberatkan konsumen. Inisiatif ini merupakan komitmen bersama pemerintah pusat dan daerah untuk memastikan akses pangan yang aman, berkualitas, dan terjangkau bagi semua masyarakat, terutama di wilayah Timur.
Sumber: Antara News
Baca Juga

Pemerintah Jaga Industri Keramik Tetap Kompetitif dengan Dua Strategi Utama

Paramount Petals Prioritaskan Jalan Lebar dan Konektivitas untuk Tingkatkan Kualitas Hidup Penghuni

Portugal Dilanda Krisis Hunian, Ribuan Warga Turun ke Jalan Desak Pemerintah

